Puji Suci Marang Gusti,Kawulo Tansah Ngabekti...

Selasa, 27 September 2011

TATA CARA SEMEDI/MEDITASI

Semedi ( Meditasi )
Banyak istilah yang bisa dipakai untuk
menggambarkan perilaku khas ini. Semedi kata orang
Jawa. Meditasi. Maladihening. Neng, ning, nung.
Kotemplasi. Tafakur. Dan…..mungkin masih ada banyak
istilah yang maksudnya sepadan.
Bermacam cara orang melakukan meditasi. Berbagai
tujuan pula yang hendak diraih. Untuk kali ini kita
akan berbincang dengan memfokuskan pada tiga hal
yaitu pencarian kesejatian diri, alam gaib dan
‘penemuan’ dengan “Sang Maha Ada”.
Saya kutip dulu dari ajaran Wirid / Semedi
MALADIHENING yang diajarkan Eyang Guru saya,demikian
tatacaranya :
1. Posisi badan telentang menghadap ke atas, seperti
mau tidur. Jangan ada anggota badan yang posisinya
kurang nyaman. Seluruh anggota badan “jatuh”
menempel di pembaringan tanpa ada penahanan
sedikitpun. Seluruh otot dan syaraf harus rileks atau
loss. Bisa juga dipakai posisi duduk bersila.
2. Tangan sedekap atau ’sendakep’ dengan posisi
lengan atas tetap menempel di lantai/tempat
berbaring sementara lengan bawah diletakkan di atas
dada. Jari-jari tangan saling mengunci ( jari diadu
dengan jari merapat ). Atau bisa juga agar lebih rileks,
tangan diluruskan ke bawah (arah kaki), kedua
telapak tangan menempel di paha kiri kanan sebelah
luar.
3. Mata terpejam seakan anda sedang bersiap
menidurkan diri. Bola mata tidak boleh bergerak-gerak,
tahan dalam posisi pejam dan bola mata diam tidak
bergerak, disebut meleng, meneng. Ketika
memejamkan mata ini bola mata diarahkan ke arah
puncak hidung ( mandeng puncaking grono )
4. Kaki lurus dan rileks, telapak kaki kanan
ditumpangkan di atas telapak kaki kiri disebut
sedakep suku tunggal.
Mengumpulkan atau Mengatur Pernafasan.
Tarik pelan nafas melalui hidung sampai di perut, lebih
tepatnya lagi sampai di puser. Tahan. Bawa naik ke
atas terus sampai ubun-ubun. Tahan. Baru bawa ke
bawah samapi mulut dan lepaskan. Lakukan berulang-
ulang. Bawa atau tarik naik turunnya nafas dengan
‘rasa kesadaran’. Ketika ini lidah hendaknya ditekuk ke
atas, ke ‘cethak’. Lakukan beberapa kali ulangan.
Ketika ini harus dibarengi ingat kepada Allah. Cara
praktisnya yaitu ketika menarik nafas hati menyebut
“HU” dan ketika melepas nafas hati menyebut
“ALLAH”.
Lafal HU merujuk pada ADA-Nya, atau Dzat-Nya atau
Pribadi-Nya. Sedangkan lafal ALLAH merujuk pada
Nama-Nya atau panggilan-Nya.
Kemudian pikiran dikosongkan, tidak memikirkan apa-
apa. Obyek pikir atau lebih tepatnya ‘kesadaran rasa
kita’, kita fokuskan ke arah puncak hidung ( yaitu
diantara dua mata kita ). Maka akan nampak cahaya
berpendar. Semakin terang. Kita ikuti denga kesadaran
rasa kita. seakan ada lorong yang panjang bercahaya
keperakan. Kita ikuti saja. Nah…plong…kita atau lebih
tepatnya kesadaran diri kita yang sejati sudah bebas
dari tubuh kita. Sensasi ini yang oleh kebanyakan
orang disebut ‘meraga sukma’ atau ngrogo sukmo.
Nah sampai pada batas ini menjadi sangat krusial.
Karena apa ? Karena apapun yang kita niatkan akan
’sampai’. Artinya obyek kesadaran menjadi sangat
penting. Jika kesadaran Anda kepada alam gaibnya jin
maka otomatis ’sinyal gelombang energi’ Anda akan
bersambung dengan alam jin. Jika obyek kesadaran
Anda adalah para ruh nenek-moyang atau leluhur
maka Anda akan berjumpa dengan leluhur Anda.
Ada satu hal yang sangat penting di sini. Apakah kita
hanya akan ‘mengurusi’ soal benda dan makhluk
saja ? Apakah kesadaran kita akan hanya kita tujukan
untuk mencari ‘ada’ yang bisa rusak dan tidak hakiki
( makhluk ) saja ? Tidakkah kita ingin ‘menjumpai’ Dia
Sang Maha Ada yang tidak akan rusak binasa ( Al-
Kholiq ) ? Dia yang telah menciptakan kita dan juga
alam ini. Dia Yang Maha Ada yang menjadi ‘tempat’
kita berpulang atau kembali nanti.
Mari bertafakur yang sejati. Menemukan-Nya di diri
kita dan juga di diri-diri yang lain. Di diri alam semesta.
Sejatinya dimanapun ‘ada’ itu ada maka disitulah Sang
Maha Ada itu ada. Dia meliputi segala sesuatu. Justru
jika kesadaran kita terhenti pada diri kita saja maka
yang kita temui adalah hanya diri kita. Jika kesadaran
kita ada pada alam jin maka yang kita temui adalah
jin. Jika kesadaran kita ada pada-Nya, bahkan
harusnya itu ’sadar penuh’ maka kita akan ketemu
dengan Dia, Sang Sangkan Paraning Dumadi. Tentu
bertemu dengan-Nya secara tan kinoyo ngopo, laisa
kamitslihi syai’un, tidak bisa digambarkan dengan apa
dan bagaimana.
Salah satu bentuk semedi yang paling dasar dan alami
adalah tidur. Ketika kita tidur maka hakekatnya sama
dengan mati. Ketika tidur inilah diri kita kembali
berada dalam ‘genggaman’-Nya. Nah bayangkan
sendiri jika kita bisa tidur secara ‘advance’. Yaitu badan
kita tidur terlelap namun kesadaran kita bisa tetap
’sadar’ mengikuti kesadaran ‘ruh’ kita yang merupakan
‘min Ruhi’.
Ada lagi semedi dalam bentuk yang sudah ‘advance’
yaitu sholat. Namun sholat dalam pengertian yang
sebenar-benarnya yaitu bukan hanya manembahing
rogo, tetapi juga manembahing rahsa ( sir ) dan
sukma ( ruh ).
Salam Ilmu Sejati,Puji Suci marang Gusti kawulo tansah ngabekti.

1 komentar:

  1. Salam kenal..Kang Ini Sahid....Kang ada no hp yang bisa dihubungi..

    BalasHapus