Dalam hidup ini, manusia senantiasa
diingatkan untuk memahami filosofi Kejawen
yang berbunyi “Sangkan Paraning Dumadi”.
Apa sebenarnya Sangkan Paraning Dumadi?
Tidak banyak orang yang mengetahuinya.
Padahal, jika kita belajar tentang Sangkan
Paraning Dumadi, maka kita akan
mengetahuikemana tujuan kita setelah hidup
kita berada di akhir hayat. Manus…ia sering
diajari filosofi Sangkan Paraning Dumadi itu
ketika merayakan Hari Raya Idul Fitri. Biasanya
masyarakat Indonesia lebih suka
menghabiskan waktu hari raya Idul Fitri
dengan mudik. Nah, mudik itulah yang
menjadi pemahaman filosofi Sangkan Paraning
Dumadi. Ketika mudik, kita dituntut untuk
memahami dari mana dulu kita berasal, dan
akan kemanakah hidup kita ini nantinya.
Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak
tembang dhandanggula warisan para leluhur
yang sampai detik ini masih terus
dikumandangkan.
Kawruhana sejatining urip Urip ana jroning
alam donya Bebasane mampir ngombe
Umpama manuk mabur Lunga saka kurungan
neki Pundi pencokan benjang Awja kongsi
kaleru Umpama lunga sesanja Najan-
sinanjan ora wurung bakal mulih Mulih mula
mulanya
Ketahuilah sejatinya hidup,
Hidup di dalam alam dunia,
Ibarat perumpamaan mampir minum,
Seumpama burung terbang,
Pergi dari kurungannya,
Dimana hinggapnya besok,
Jangan sampai keliru,
Umpama orang pergi bertandang,
Saling bertandang, yang pasti bakal pulang,
Pulang ke asal mulanya,
Kemanakah kita bakal ‘pulang’? Kemanakah
setelah kita ‘mampir ngombe’ di dunia ini?
Dimana tempat hinggap kita andai melesat
terbang dari ‘kurungan’ (badan jasmani) dunia
ini? Kemanakah aku hendak pulang setelah
aku pergi bertandang ke dunia ini? Itu adalah
suatu pertanyaan besar yang sering hinggap di
benak orang-orang yang mencari ilmu sejati.
Yang jelas, beberapa pertanyaan itu
menunjukkan bahwa dunia ini bukanlah
tempat yang langgeng. Hidup di dunia ini
hanya sementara saja. Oleh karena itu, tidak
ada salahnya jika kita menyimak tembang
dari Syech Siti Jenar yang digubah oleh Raden
Panji Natara dan digubah lagi oleh
Bratakesawa yang bunyinya seperti ini:
“Kowe padha kuwalik panemumu, angira
donya iki ngalame wong urip, akerat kuwi
ngalame wong mati; mulane kowe pada
kanthil-kumanthil marang kahanan ing donya,
sarta suthik aninggal donya.”
(“Terbalik
pendapatmu, mengira dunia ini alamnya orang
hidup, akherat itu alamnya orang mati.
Makanya kamu sangat lekat dengan
kehidupan dunia, dan tidak mau meninggalkan
alam dunia”)
Pertanyaan yang muncul dari tembang Syech
Siti Jenar adalah: Kalau dunia ini bukan
alamnya orang hidup, lalu alamnya siapa?
Syech Siti Jenar menambahkan penjelasannya:
“Sanyatane, donya iki ngalame wong mati,
iya ing kene iki anane swarga lan naraka,
tegese, bungah lan susah. Sawise kita
ninggal donya iki, kita bali urip langgeng, ora
ana bedane antarane ratu karo kere, wali
karo bajingan.”
(Kenyataannya, dunia ini
alamnya orang mati, iya di dunia ini adanya
surga dan neraka, artinya senang dan susah.
Setelah kita meninggalkan alam dunia ini, kita
kembali hidup langgeng, tidak ada bedanya
antara yang berpangkat ratu dan orang miskin,
wali ataupun bajingan”)
Dari pendapat Syech Siti Jenar itu kita bisa
belajar, bahwa hidup di dunia ini yang serba
berubah seperti roda (kadang berada di
bawah, kadang berada di atas), besok
mendapat kesenangan, lusa memperoleh
kesusahan, dan itu bukanlah merupakan hidup
yang sejati ataupun langgeng.
Wejangan beberapa leluhur mengatakan:
“Urip sing sejati yaiku urip sing tan keno
pati”.
(hidup yang sejati itu adalah hidup yang
tidak bisa terkena kematian). Ya, kita semua
bakal hidup sejati. Tetapi permasalahan yang
muncul adalah, siapkah kita menghadapi hidup
yang sejati jika kita senantiasa berpegang
teguh pada kehidupan di dunia yang serba
fana?
Ajaran para leluhur juga menjelaskan:
“Tangeh lamun siro bisa ngerti
sampurnaning pati, yen siro ora ngerti
sampurnaning urip.”
(mustahil kamu bisa
mengerti kematian yang sempurna, jika kamu
tidak mengerti hidup yang sempurna).
Oleh karena itu, kita wajib untuk menimba
ilmu agar hidup kita menjadi sempurna dan
mampu meninggalkan alam dunia ini menuju
ke kematian yang sempurna pula.
Selasa, 27 September 2011
Minggu, 25 September 2011
ARTI & MAKNA HURUF JOWO
Ha :Hana hurip wening suci=Adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci.
Na :Nur candra, gaib candra, warsitaning candara=
Pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi.
Ca :Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi= Arah dan
tujuan pada Yang Maha Tunggal
Ra :Rasaingsun handulusih = Rasa cinta sejati muncul
dari cinta kasih nurani
Ka :Karsaningsun memayuhayuning bawana = Hasrat
diarahkan untuk kesajetraan alam
Da :Dumadining dzat kang tanpa winangenan =
Menerima hidup apa adanya
Ta :Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa = Mendasar,
totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
Sa :Sifat ingsun handulu sifatullah= Membentuk kasih
sayang seperti kasih Tuhan
Wa :Wujud hana tan kena kinira = Ilmu manusia
hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas
La :Lir handaya paseban jati = Mengalirkan hidup
semata pada tuntunan Illahi
Pa :Papan kang tanpa kiblat = Hakekat Allah yang
ada disegala arah
Dha :Dhuwur wekasane endek wiwitane = Untuk bisa
diatas tentu dimulai dari dasar
Ja :Jumbuhing kawula lan Gusti = Selalu berusaha
menyatu, memahami sifat dan kehendak- Nya
Ya :Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi
= Percaya dan Yakin atas titah / kodrat Illahi
Nya :Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki =
Memahami kodrat kehidupan
Ma :Madep mantep manembah mring Ilahi = Yakin/
mantap dalam menyembah Ilahi
Ga :Guru sejati sing muruki = Belajar pada guru nurani
Ba :Bayu sejati kang andalani = Menyelaraskan diri
pada gerak alam
Tha :Tukul saka niat = Sesuatu harus dimulai dan
tumbuh dari niat yang suci
Nga :Ngracut busananing manungso = Melepaskan
egoisme pribadi manusia.
Adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci -
pengharapan manusia hanya
selalu ke sinar Illahi - satu arah dan tujuan pada Yang
Maha Tunggal - rasa cinta sejati muncul dari cinta
kasih nurani - hasrat diarahkan untuk kesajetraan
alam - menerima hidup apa adanya - mendasar,
totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
- membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan - ilmu
manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa
tanpa batas - mengalirkan hidup semata pada
tuntunan Illahi - Hakekat Allah yang ada disegala arah
- Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar - selalu
berusaha menyatu, memahami sifat dan kehendak
Nya – percaya dan yakin atas titah / kodrat Illahi -
memahami kodrat kehidupan - yakin / mantap dalam
menyembah Ilahi - belajar pada guru nurani -
menyelaraskan diri pada gerak alam - sesuatu harus
dimulai - tumbuh dari niat yang suci - melepaskan
egoisme pribadi manusia.
Na :Nur candra, gaib candra, warsitaning candara=
Pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi.
Ca :Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi= Arah dan
tujuan pada Yang Maha Tunggal
Ra :Rasaingsun handulusih = Rasa cinta sejati muncul
dari cinta kasih nurani
Ka :Karsaningsun memayuhayuning bawana = Hasrat
diarahkan untuk kesajetraan alam
Da :Dumadining dzat kang tanpa winangenan =
Menerima hidup apa adanya
Ta :Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa = Mendasar,
totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
Sa :Sifat ingsun handulu sifatullah= Membentuk kasih
sayang seperti kasih Tuhan
Wa :Wujud hana tan kena kinira = Ilmu manusia
hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas
La :Lir handaya paseban jati = Mengalirkan hidup
semata pada tuntunan Illahi
Pa :Papan kang tanpa kiblat = Hakekat Allah yang
ada disegala arah
Dha :Dhuwur wekasane endek wiwitane = Untuk bisa
diatas tentu dimulai dari dasar
Ja :Jumbuhing kawula lan Gusti = Selalu berusaha
menyatu, memahami sifat dan kehendak- Nya
Ya :Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi
= Percaya dan Yakin atas titah / kodrat Illahi
Nya :Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki =
Memahami kodrat kehidupan
Ma :Madep mantep manembah mring Ilahi = Yakin/
mantap dalam menyembah Ilahi
Ga :Guru sejati sing muruki = Belajar pada guru nurani
Ba :Bayu sejati kang andalani = Menyelaraskan diri
pada gerak alam
Tha :Tukul saka niat = Sesuatu harus dimulai dan
tumbuh dari niat yang suci
Nga :Ngracut busananing manungso = Melepaskan
egoisme pribadi manusia.
Adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci -
pengharapan manusia hanya
selalu ke sinar Illahi - satu arah dan tujuan pada Yang
Maha Tunggal - rasa cinta sejati muncul dari cinta
kasih nurani - hasrat diarahkan untuk kesajetraan
alam - menerima hidup apa adanya - mendasar,
totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
- membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan - ilmu
manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa
tanpa batas - mengalirkan hidup semata pada
tuntunan Illahi - Hakekat Allah yang ada disegala arah
- Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar - selalu
berusaha menyatu, memahami sifat dan kehendak
Nya – percaya dan yakin atas titah / kodrat Illahi -
memahami kodrat kehidupan - yakin / mantap dalam
menyembah Ilahi - belajar pada guru nurani -
menyelaraskan diri pada gerak alam - sesuatu harus
dimulai - tumbuh dari niat yang suci - melepaskan
egoisme pribadi manusia.
SASTRO JENDRO HAYUNINGRAT
Sastra Jendra Hayuningrat.
Dalam tataran keilmuan orang jawa ada beberapa hal
yang harus ditempuh jika seseorag ingin mencapai
kesempurnaan hidup,salah satunya tataran yang
harus dilewati tertuang dalam kitab baswalingga
karya pujangga besar jawa ki rangga warsita.tataran
keilmuan yang termahtub dalam kitab karya rangga
menurut ki rangga warsita bahwasannya sastra
jendra hayuningrat adalah jalan atau cara untuk
mencapai kesempurnaan hidup berdasarkan falsafah
ajaran budha,dan apabila semua orang menaati
semua ajaran sastra tadi niscaya bumi akan
sejahtera,
nama lain dari sastra jendra hayuningrat adalah sastra
cetha alias sastra tanpa papan dan sastra tanpa
tulis,walaupun tanpa tulis dan papan tapi maknanya
terang dan bisa digunakan sebagai serat
papakem paugeraning gesang.
untuk mencapai sastra cetha ada 7 tahapan yg
harus dilalui ya
itu:
1.Tapaning Jasad: mengendalikan atau menghentikan
gerak tubuh dan gerak fisik lainnya,lakunya tidak
dendam ,sakit hati .semua hal diterima dengan
legawa-tabah dengan kesungguhan hati alis tan milih
tan nolak.
2.Tapaning Budhi:artinya menghilangkan perbuatan yang
hina (nista) dan hal hal yang tidak jujur
3.Tapaning hawa nafsu:mengendalikan nafsu atau sifat
angkara murka dari pribadi kita.lakunya sabar dan
selalu berusaha menyucikan diri,punya perasaan
dalam,mudah memberi maaf dan taat pada tuhan
yang maha esa.
4.Tapaning Cipta:artinya memperhatikan perasaan
secara sungguh sungguh atau dalam bahasa jawanya
ngesti sarasaning raos ati,berusaha sekuat tenaga
menuju heneng–meneng-khusyuk-tumaknina,sehingga
hasilnya tidak akan diombang ambingkan oleh
siapapun dan apapun dan yang akhir selalu hening-
wening atau waspada supaya bisa konsentrasi ke
alloh swt
.
5.Tapaning Sukma:dalam tahapan ini kita fokus ke
ketenangan jiwa.amalnya ikhlas dan memperluas
rasa kedermawanan kita dengan memberi derma
kepada fakir miskin secara iklas
6.Tapaning cahya:maknanya dalam tataran ini selalu
eling,awas dan waspada.sehingga hasilnya kita
mempunyai daya meramalkan sesuatu secara tepat
alis waskitha,amal eling dan waspada diikuti dengan
menghindari hal hal yang bersifat glamour dunia atau
memabukan yang mengakibatkan batin kita menjadi
samar.
7.Tapaning gesang:dalam tahapan akhir ini kita
berusaha sekuat tenaga dengan hati hati menuju
kesempurnaan hidup dan taat pada Tuhan Yang
Mahaesa.
ilmu sastra jendra yang kami terangkan diatas
berdasarkan kebatinan jawa,sastra ini bermakna
mantra berdasarkan ilmu pengetahuan dengan kata
lain ilmu untuk memupuk kesejahteraan dunia
(memayu hayuning bawana). yang berasal dari
bathara indra yang juga bermakna endra loka alias
pusat tubuh manusia yang berada di dalam rongga
dada(jantung),pusat dalam kaitan diatas bermakna
sumber atau rasa sejati-ambang batas.hayu-ing-rat
artinya menuju keselamatan dunia.
Dalam tataran keilmuan orang jawa ada beberapa hal
yang harus ditempuh jika seseorag ingin mencapai
kesempurnaan hidup,salah satunya tataran yang
harus dilewati tertuang dalam kitab baswalingga
karya pujangga besar jawa ki rangga warsita.tataran
keilmuan yang termahtub dalam kitab karya rangga
menurut ki rangga warsita bahwasannya sastra
jendra hayuningrat adalah jalan atau cara untuk
mencapai kesempurnaan hidup berdasarkan falsafah
ajaran budha,dan apabila semua orang menaati
semua ajaran sastra tadi niscaya bumi akan
sejahtera,
nama lain dari sastra jendra hayuningrat adalah sastra
cetha alias sastra tanpa papan dan sastra tanpa
tulis,walaupun tanpa tulis dan papan tapi maknanya
terang dan bisa digunakan sebagai serat
papakem paugeraning gesang.
untuk mencapai sastra cetha ada 7 tahapan yg
harus dilalui ya
itu:
1.Tapaning Jasad: mengendalikan atau menghentikan
gerak tubuh dan gerak fisik lainnya,lakunya tidak
dendam ,sakit hati .semua hal diterima dengan
legawa-tabah dengan kesungguhan hati alis tan milih
tan nolak.
2.Tapaning Budhi:artinya menghilangkan perbuatan yang
hina (nista) dan hal hal yang tidak jujur
3.Tapaning hawa nafsu:mengendalikan nafsu atau sifat
angkara murka dari pribadi kita.lakunya sabar dan
selalu berusaha menyucikan diri,punya perasaan
dalam,mudah memberi maaf dan taat pada tuhan
yang maha esa.
4.Tapaning Cipta:artinya memperhatikan perasaan
secara sungguh sungguh atau dalam bahasa jawanya
ngesti sarasaning raos ati,berusaha sekuat tenaga
menuju heneng–meneng-khusyuk-tumaknina,sehingga
hasilnya tidak akan diombang ambingkan oleh
siapapun dan apapun dan yang akhir selalu hening-
wening atau waspada supaya bisa konsentrasi ke
alloh swt
.
5.Tapaning Sukma:dalam tahapan ini kita fokus ke
ketenangan jiwa.amalnya ikhlas dan memperluas
rasa kedermawanan kita dengan memberi derma
kepada fakir miskin secara iklas
6.Tapaning cahya:maknanya dalam tataran ini selalu
eling,awas dan waspada.sehingga hasilnya kita
mempunyai daya meramalkan sesuatu secara tepat
alis waskitha,amal eling dan waspada diikuti dengan
menghindari hal hal yang bersifat glamour dunia atau
memabukan yang mengakibatkan batin kita menjadi
samar.
7.Tapaning gesang:dalam tahapan akhir ini kita
berusaha sekuat tenaga dengan hati hati menuju
kesempurnaan hidup dan taat pada Tuhan Yang
Mahaesa.
ilmu sastra jendra yang kami terangkan diatas
berdasarkan kebatinan jawa,sastra ini bermakna
mantra berdasarkan ilmu pengetahuan dengan kata
lain ilmu untuk memupuk kesejahteraan dunia
(memayu hayuning bawana). yang berasal dari
bathara indra yang juga bermakna endra loka alias
pusat tubuh manusia yang berada di dalam rongga
dada(jantung),pusat dalam kaitan diatas bermakna
sumber atau rasa sejati-ambang batas.hayu-ing-rat
artinya menuju keselamatan dunia.
KIDUNG RUMEKSO ING WENGI
Kidung Rumekso Ing Wengi
By Kanjeng Wali Sunan Kalijogo
Ana kidung rumeksa ing wengi,
Teguh ayu luputa ing lara,
Luputa bilahi kabeh,jin setan datan purun,
Paneluhan tan ana wani, miwah panggawe ala,
Gunane wong luput, geni anemahan tirta,
Maling adoh tan ana ngarah ing kami, guna duduk
pan sirna.
Sakehin lara pan samja bali,
Sakehing ama sami miruda, welas asih pandulune,
Sakehing bradja luput, kadi kapuk tibanireki,
Sakehing wisa tawa, sato kuda tutut,
Kayu aeng lemah sangar songing landak,
Guwaning mong lemah miring, mjang pakiponing
merak.
Pagupakaning warak sakalir,
Nadyan artja mjang sagara asat,
Satemah rahayu kabeh, dadi sarira aju,
Ingideran mring widhadari, rinekseng malaekat,
Sakatahing rusuh, pan dan sarira tunggal,
Ati Adam utekku Bagenda Esis, pangucapku ya Musa.
Napasingun Nabi Isa luwih,
Nabi Yakub pamiyarsaningwang,
Yusuf ing rupaku mangke,
Nabi Dawud swaraku,
Yang Suleman kasekten mami,
Ibrahim nyawaningwang,
Idris ing rambutku, Bagendali kulitingwang,
Abu Bakar getih, daging Umar singgih, balung
Bagenda Usman.
Sungsumingsun Fatimah Linuwih,
Siti Aminah bajuning angga,
Ayub minangka ususe, sakehing wulu tuwuh,
Ing sarira tunggal lan Nabi, Cahyaku ya Muhammad,
Panduluku Rasul, pinajungan Adam syara",
Sampun pepak sakatahing para nabi, dadi sarira
tunggal.
Wiji sawiji mulane dadi, pan apencar dadiya isineng
jagad,
Kasamadan dening Dzate kang moho suci.
By Kanjeng Wali Sunan Kalijogo
Ana kidung rumeksa ing wengi,
Teguh ayu luputa ing lara,
Luputa bilahi kabeh,jin setan datan purun,
Paneluhan tan ana wani, miwah panggawe ala,
Gunane wong luput, geni anemahan tirta,
Maling adoh tan ana ngarah ing kami, guna duduk
pan sirna.
Sakehin lara pan samja bali,
Sakehing ama sami miruda, welas asih pandulune,
Sakehing bradja luput, kadi kapuk tibanireki,
Sakehing wisa tawa, sato kuda tutut,
Kayu aeng lemah sangar songing landak,
Guwaning mong lemah miring, mjang pakiponing
merak.
Pagupakaning warak sakalir,
Nadyan artja mjang sagara asat,
Satemah rahayu kabeh, dadi sarira aju,
Ingideran mring widhadari, rinekseng malaekat,
Sakatahing rusuh, pan dan sarira tunggal,
Ati Adam utekku Bagenda Esis, pangucapku ya Musa.
Napasingun Nabi Isa luwih,
Nabi Yakub pamiyarsaningwang,
Yusuf ing rupaku mangke,
Nabi Dawud swaraku,
Yang Suleman kasekten mami,
Ibrahim nyawaningwang,
Idris ing rambutku, Bagendali kulitingwang,
Abu Bakar getih, daging Umar singgih, balung
Bagenda Usman.
Sungsumingsun Fatimah Linuwih,
Siti Aminah bajuning angga,
Ayub minangka ususe, sakehing wulu tuwuh,
Ing sarira tunggal lan Nabi, Cahyaku ya Muhammad,
Panduluku Rasul, pinajungan Adam syara",
Sampun pepak sakatahing para nabi, dadi sarira
tunggal.
Wiji sawiji mulane dadi, pan apencar dadiya isineng
jagad,
Kasamadan dening Dzate kang moho suci.
WIRID HIDAYAT JATI
Wirid Hidayat Jati, karya (R Ngabehi Ronggowarsito)
Wejangan ke-1 Ananing Dat
Sajatine ora ana apa-apa awit duk maksih awang-
uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin
Ingsun, sajatine kang maha suci anglimputi ing
sipatIngsun, anartani ing asmanIngsun, amratandhani
ing apngalIngsun.
Wejangan ke-2 Wahananing Dat
sajatine Ingsun dat kang amurba amisesa kang
kawasa anitahake sawiji-wiji, dadi sanalika,
sampurna saka kodrat Ingsun, ing kono wus kanyatan
pratandhaning apngalIngsun kang minangka
bebukaning iradatIngsun, kang dhingin Ingsun
anitahake kayu aran sajaratulyakin tumuwuh ing
sajroning alam ngadammakdum ajali abadi. Nuli
cahya aran nur muhammad, nuli kaca aran
mirhatulkayai, nuli nyawa aran roh ilapi, nuli damar
aran kandil, nuli sesotya aran darah, nuli dhindhing
jalal aran kijab. Iku kang minangka warananing
kalaratIngsun.
Wejangan ke-3 Kahananing Dat
Sajatine manungsa iku rahsanIngsun lan Ingsun iku
rahsaning manungsa, karana Ingsun anitahake adam
asal saka anasir patang prakara, bumi, geni, angin,
banyu. Iku kang dadi kawujudaning sipat Ingsun, ing
kono Ingsun panjingi mudah limang prakara, nur,
rahsa, roh, napsu, budi. Iya iku minangka warananing
wajah Ingsun kang maha suci.
Wejangan ke-4 Pambukaning tata malige ing dalem
betalmakmur
sajatine Ingsun anata malige ana sajroning
betalmakmur, iku omah enggoning parameyanIngsun,
jumeneng ana sirahing Adam. Kang ana sajroning
sirah iku dimak, yaiku utek, kang ana antaraning utek
iku manik, sajroning manik iku budi, sajroning budi iku
napsu, sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma
iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana
Pangeran anging Ingsn, dat kang nglimputi ing kaanan
jati.
Wejangan ke-5 Pambuka tata malige ing dalem
betalmukarram
sajatine Ingsun anata malige sajroning
betalmukarram, iku omah enggoning
lalaranganIngsun, jumeneng ana ing dhadhaningg
adam. Kang ana sajroning dhadha iku ati, kang ana
antaraning ati iku jantung, sajroning jantung iku budi,
sajroning budi iku jinem , yaiku angen-angen,
sajroning angen-angen iku suksma, sajroning suksma
iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana
pangeran anging Ingsun dat kang anglimputi ing
kaanan jati
Wejangan ke-6 Pambuka tata malige ing dalem
betalmukadas
sajatine Ingsun anata malige ana sajroning
betalmukadas, iku omah enggoning pasucenIngsun,
jumeneng ana ing kontholing adam. Kang ana
sajroning konthol iku prinsilan, kang ana ing
antaraning pringsilan ikku nutpah, yaiku mani,
sajroning mani iku madi, sajroning madi iku wadi,
sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku
rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana pangeran
anging Ingsun dat kang anglimputi ing kaanan jati,
jumeneng sajroning nukat gaib, tumurun dadi johar
awal, ing kono wahananing alam akadiyat, wahdat,
wakidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam
insan kamil, dadining manungsa sampurna yaiku
sajatining sipatIngsun. Nasehat ke-6 Pembuka tahta
dalam baitulmuqaddas Wejangan ke-7 Panetep
santosaning iman
Ingsun anekseni satuhune ora ana Pangeran anging
Ingsun lan anekseni Ingsun satuhune muhammad iku
utusan Ingsun
Wejangan ke-8 Sasahidan Ingsun
anekseni ing DatIngsun dhewe, satuhune ora ana
Pangeran anging Ingsun, lan anekseni Ingsun
satuhune muhammad iku utusanIngsun. Iya sejatine
kan aran Allah iku badanIngsun, rasul iku
rahsaNingsun, muhammad iku cahayaNingsun. Iya
Ingsun kang urip tan kena ing pati, iya Ingsun kang
eling tan kena ing lali, iya Ingsun kang langgeng ora
kena owah gingsir ing kaanan jati, iya Ingsun kang
waskitha, ora kasamaran ing sawiji-wiji. Iya Ingsun
kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora
kekurangan ing pakerthi, byar sampurna padhang
terawangan, ora karasa apa-apa, ora ana katon apa-
apa, amung Ingsun kang anglimputi ing alam kabeh
kalawan kodratIngsun
R Ngabehi Ronggowarsito
.
Wejangan ke-1 Ananing Dat
Sajatine ora ana apa-apa awit duk maksih awang-
uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin
Ingsun, sajatine kang maha suci anglimputi ing
sipatIngsun, anartani ing asmanIngsun, amratandhani
ing apngalIngsun.
Wejangan ke-2 Wahananing Dat
sajatine Ingsun dat kang amurba amisesa kang
kawasa anitahake sawiji-wiji, dadi sanalika,
sampurna saka kodrat Ingsun, ing kono wus kanyatan
pratandhaning apngalIngsun kang minangka
bebukaning iradatIngsun, kang dhingin Ingsun
anitahake kayu aran sajaratulyakin tumuwuh ing
sajroning alam ngadammakdum ajali abadi. Nuli
cahya aran nur muhammad, nuli kaca aran
mirhatulkayai, nuli nyawa aran roh ilapi, nuli damar
aran kandil, nuli sesotya aran darah, nuli dhindhing
jalal aran kijab. Iku kang minangka warananing
kalaratIngsun.
Wejangan ke-3 Kahananing Dat
Sajatine manungsa iku rahsanIngsun lan Ingsun iku
rahsaning manungsa, karana Ingsun anitahake adam
asal saka anasir patang prakara, bumi, geni, angin,
banyu. Iku kang dadi kawujudaning sipat Ingsun, ing
kono Ingsun panjingi mudah limang prakara, nur,
rahsa, roh, napsu, budi. Iya iku minangka warananing
wajah Ingsun kang maha suci.
Wejangan ke-4 Pambukaning tata malige ing dalem
betalmakmur
sajatine Ingsun anata malige ana sajroning
betalmakmur, iku omah enggoning parameyanIngsun,
jumeneng ana sirahing Adam. Kang ana sajroning
sirah iku dimak, yaiku utek, kang ana antaraning utek
iku manik, sajroning manik iku budi, sajroning budi iku
napsu, sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma
iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana
Pangeran anging Ingsn, dat kang nglimputi ing kaanan
jati.
Wejangan ke-5 Pambuka tata malige ing dalem
betalmukarram
sajatine Ingsun anata malige sajroning
betalmukarram, iku omah enggoning
lalaranganIngsun, jumeneng ana ing dhadhaningg
adam. Kang ana sajroning dhadha iku ati, kang ana
antaraning ati iku jantung, sajroning jantung iku budi,
sajroning budi iku jinem , yaiku angen-angen,
sajroning angen-angen iku suksma, sajroning suksma
iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana
pangeran anging Ingsun dat kang anglimputi ing
kaanan jati
Wejangan ke-6 Pambuka tata malige ing dalem
betalmukadas
sajatine Ingsun anata malige ana sajroning
betalmukadas, iku omah enggoning pasucenIngsun,
jumeneng ana ing kontholing adam. Kang ana
sajroning konthol iku prinsilan, kang ana ing
antaraning pringsilan ikku nutpah, yaiku mani,
sajroning mani iku madi, sajroning madi iku wadi,
sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku
rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana pangeran
anging Ingsun dat kang anglimputi ing kaanan jati,
jumeneng sajroning nukat gaib, tumurun dadi johar
awal, ing kono wahananing alam akadiyat, wahdat,
wakidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam
insan kamil, dadining manungsa sampurna yaiku
sajatining sipatIngsun. Nasehat ke-6 Pembuka tahta
dalam baitulmuqaddas Wejangan ke-7 Panetep
santosaning iman
Ingsun anekseni satuhune ora ana Pangeran anging
Ingsun lan anekseni Ingsun satuhune muhammad iku
utusan Ingsun
Wejangan ke-8 Sasahidan Ingsun
anekseni ing DatIngsun dhewe, satuhune ora ana
Pangeran anging Ingsun, lan anekseni Ingsun
satuhune muhammad iku utusanIngsun. Iya sejatine
kan aran Allah iku badanIngsun, rasul iku
rahsaNingsun, muhammad iku cahayaNingsun. Iya
Ingsun kang urip tan kena ing pati, iya Ingsun kang
eling tan kena ing lali, iya Ingsun kang langgeng ora
kena owah gingsir ing kaanan jati, iya Ingsun kang
waskitha, ora kasamaran ing sawiji-wiji. Iya Ingsun
kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora
kekurangan ing pakerthi, byar sampurna padhang
terawangan, ora karasa apa-apa, ora ana katon apa-
apa, amung Ingsun kang anglimputi ing alam kabeh
kalawan kodratIngsun
R Ngabehi Ronggowarsito
.
Langganan:
Postingan (Atom)
